Pernah nggak sih ngerasa, anak tiba-tiba ngomong bahasa yang nggak masuk akal? Atau tiba-tiba jalan merangkak sambil menggonggong? Tenang, kamu nggak sendirian. Di 2026, orang tua di seluruh dunia lagi “garuk kepala” menghadapi tingkah anak-anak mereka yang makin aneh. Tapi kalau kita pahami dari dua sisi, ternyata ada makna yang lebih dalam.
Gue penasaran banget, kenapa sih anak-anak kita bisa ikutan tren aneh kayak aura farming dan therian? Apa ini cuma iseng, atau ada yang lebih serius? Yuk, kita bedah dua fenomena yang lagi heboh.
1. Aura Farming: Dari Perahu Tradisional Riau ke Seluruh Dunia
Awal Mula yang Tak Terduga
Bayangkan, seorang bocah kelas 5 SD bernama Rayyan Arkan Dikha dari Riau menari di ujung perahu dalam tradisi Pacu Jalur. Gerakannya santai, cool, tanpa ekspresi berlebihan. Dan tiba-tiba? Viral ke seluruh dunia! Bahkan bintang NFL Travis Kelce dan PSG ikutan mencoba gerakannya . Lagu Jepang “Yoru no Odoriko” dari 2012 yang dipakai jadi backsound malah kembali ke puncak tangga lagu Jepang 14 tahun kemudian !
Apa Itu Aura Farming?
Istilah “aura farming” artinya sengaja melakukan hal-hal keren biar terlihat percaya diri dan punya “aura” (semacam pesona atau karisma) . Kayak main game—kamu ngumpulin poin “keren” biar level naik . Rayyan jadi contoh sempurna karena dia nggak berusaha keras tapi keliatan banget kerennya.
Dua Sisi Koin yang Sama
Sisi Positif:
- Kebanggaan Budaya: Tren ini berasal dari tradisi asli Indonesia dan mendunia . Rayyan bahkan diangkat jadi Duta Wisata dan dikasih beasiswa .
- Kreativitas: Anak-anak diajak berkreasi dan percaya diri tampil.
- Pelestarian Budaya: Pacu Jalur yang sudah ratusan tahun jadi makin dikenal generasi muda .
Sisi Negatif:
- Obsesi Validasi: Anak bisa kejar “poin aura” demi konten, bukan karena benar-benar percaya diri.
- Tekanan Sosial: Takut “kehilangan aura” bikin stres dan overthinking.
- Meniru Tanpa Konteks: Banyak yang cuma ikut-ikutan tanpa paham makna budayanya.
2. Therian: Ketika Anak Merasa Jadi Hewan
Fenomena dari Argentina sampai Indonesia
Kalau aura farming bikin orang tua bingung, therian bikin mereka melongo. Di Buenos Aires, Argentina, ratusan remaja berkumpul di taman sambil berjalan merangkak, menggonggong, dan memakai topeng hewan . Tagar #therian di TikTok udah dipakai lebih dari 2 juta kali secara global. Argentina disebut sebagai negara dengan interaksi tertinggi di Amerika Latin buat tren ini .
Apa Itu Therian?
Therian adalah individu yang merasa punya koneksi psikologis atau spiritual dengan hewan non-manusia. Mereka bukan sekadar “bermain” menjadi hewan—ini lebih dalam, semacam identitas yang mereka rasakan . Di Spanyol, bahkan ada perkumpulan therian yang menarik 3 ribu orang sampai bentrok dengan polisi .
Tapi bedakan dengan “furry” ya. Furry itu lebih ke seni, kostum, dan role-play. Therian lebih ke identitas personal yang beneran mereka rasakan .
Dua Sisi Koin yang Sama
Sisi Positif:
- Ruang Aman: Bagi remaja yang merasa “terisolasi” atau “beda,” komunitas ini jadi tempat diterima .
- Ekspresi Identitas: Anak bisa mengeksplorasi siapa mereka di masa pencarian jati diri.
- Kreativitas: Bikin topeng, ekor, dan kostum sendiri .
Sisi Negatif:
- Potensi Bahaya: Ada kekhawatiran anak bisa meniru perilaku hewan di sekolah, bahkan “menyerang” teman .
- Gangguan Identitas: Psikolog anak Dr. Noor Aishah Rosli memperingatkan ini bisa mendistorsi identitas manusiawi anak .
- Ketergantungan: Bisa menjadi pelarian dari masalah nyata, bukan solusi.
3. Apa Kata Ahli: Kapan Perlu Khawatir?
Psikolog Débora Pedace dari Buenos Aires bilang, therian baru jadi masalah kalau keyakinan itu sangat mendalam dan mengganggu kehidupan sehari-hari—seperti berbahaya buat diri sendiri atau orang lain .
Di Indonesia, psikolog anak juga mengingatkan orang tua untuk memonitor konten anak di media sosial, karena TikTok cenderung mempromosikan konten aneh dan ekstrem yang menarik perhatian . Dr. Noor Aishah menekankan, “Tuhan menciptakan kita sebagai manusia, dan kita seharusnya tidak mencoba mencari atau mengadopsi identitas yang menyerupai hewan” .
3 Kesalahan Orang Tua Saat Menghadapi Tren Anak
- Langsung Marah atau Melarang Tanpa Diskusi: Anak yang dilarang keras malah makin penasaran dan sembunyi-sembunyi .
- Cuek dan “Biarin Aja”: Tanpa bimbingan, anak bisa terseret terlalu dalam atau terpapar konten berbahaya .
- Menganggap Semua Tren Itu “Gila”: Padahal di balik tren, ada kebutuhan psikologis anak yang harus dipahami .
Tips Praktis: Menghadapi Tren Anak di 2026
- Nonton Bareng Konten Mereka: Duduk sama anak dan tonton konten TikTok atau Roblox mereka. Tanya: “Ini seru ya, kenapa kamu suka?”
- Bedaah Dua Sisi: Jelaskan sisi positif dan negatif dari tren. Misal: “Aura farming itu keren, tapi ingat, yang penting percaya diri asli, bukan cuma pura-pura ya.”
- Jadi Teman Curhat: Anak butuh ruang aman buat cerita. Kalau mereka ngerasa therian sebagai pelarian, ajak diskusi tanpa menghakimi.
- Batasi Screen Time, Perbanyak Interaksi Nyata: Data 2026 menunjukin 78% orang tua merasa terburu-buru mendidik anak, dan 82% anak merasa tertekan target tinggi . Kurangi jadwal les berlebihan dan beri waktu bermain bebas .
- Cari Bantuan Ahli Kalau Perlu: Kalau anak menunjukkan perilaku ekstrem atau merasa tertekan, konsultasi ke psikolog anak .
Kesimpulan: Tren Adalah Cermin, Bukan Musuh
Jadi, apa yang sebenernya terjadi di balik aura farming dan therian? Ini bukan cuma “anak-anak iseng” atau “tren gila.” Ini adalah cermin kebutuhan mereka: pengakuan, identitas, komunitas, dan ruang aman .
Rayyan dari Riau nggak pernah nyangka tariannya jadi fenomena global—dia cuma jadi dirinya sendiri . Sementara therian di Argentina mencari tempat di dunia yang kadang terasa asing . Keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama: anak-anak kita sedang mencari jati diri di dunia yang makin kompleks.
Sebagai orang tua, tugas kita bukan melarang atau menghakimi, tapi menemani mereka memahami. Karena pada akhirnya, anak yang merasa didengar dan diterima, nggak perlu berlari ke tren aneh buat mencari validasi.